Salah satu kegiatan yang dilakukan seseorang dalam menyambut hadirnya bulan ramadhan, disamping melakukan padusan adalah melakukan kegiatan nyekar ke makam. Kegiatan ini sudah menjadi sebuah tradisi yang telah mengakar ke dalam para masyarakat. Dan hal tersebut kerap sekali dilakukan saat akan menjelang puasa. Nyekar atau tradisi untuk menabur bunga, kemudian berdoa, dan kadang juga dilanjutkan dengan sebuah acara kenduren atau acara makan bersama di area tanah kuburan ini kerap sekali dilakukan oleh masyarkat. Namun, bagaimanakah pandangan tentang tradisi yang semacam ini? Simak ulasan kami berikut ini!

    Sebenarnya siapapun itu tidak jadi masalah bahwa nyekar ke makam itu adalah sebuah tradisi dan tidak perlu dicari dalam dalil yang ada di Al Qur’an atau dari Hadits. Anda boleh beranggapan seperti itu, karena memang itu adalah pandangan setiap orang. Namun meskipun begitu, tradisi itu harusnya ditinjau juga dengan kebenarannya dan juga timbangan dari syari’I nya. Bukanlah dari akal. Hanya sebuah tradisi yang baik sajalah yang bisa diikuti. Ada beberapa orang yang beranggapan bahwa nyekar ke sebuah makam dan dilanjutkan dengan berdoa, juga melakukan acara makan bersama itu biasanya lebih mengarah pada kesyirikan. Karena kini orang berkunjung ke makam bukan lagi untuk mendoakan yang meninggal dunia ataupun untuk mengingat kematiannya. Namun, hal ini justru sebaliknya. Mereka memohon pertolongan pada mereka yang menjadi penghuni kuburan tersebut. Padahal, hal tersebut merupakan hal yang syirik untuk seorang muslim. Ada juga yang berpendapat bahwa nyekar itu adalah ziarah kubur yang memang diperintahkan dalam hokum Islam. Namun, perlu juga dicermati ke berbagai sisi, yang meliputi: bahwa benar adanya bila ziarah kubur itu dianjurkan oleh Rasul sesudah sebelumnya pernah dilarang. Namun, tetap ingatlah kenapa diperbolehkan melakukan ziarah kubur tersebut. Ziarah itu dianjurkan karena ini bisa membuat jiwa seseorang makin mengingat akan kematian dan bisa bersiap-siap untuk menghadapinya. Selain itu, ziarah itu juga dianjurkan karena untuk mendoakan orang yang sudah meninggal.

    Beberapa hadits menyatakan bahwa hikmah yang bisa diambil dalam melakukan nyekar ke makam ini adalah untuk mengingat akan akhirat, dan juga untuk mendoakan manusia yang sudah meninggal. Namun sayangnya, tradisi nyekar ini justru sering kali dilakukan secara menyimpang dan jauh dari tujuan yang umum, dari ziarah kubur itu sendiri. Di samping itu, nyekar ini sebenarnya adalah dikhususkan untuk ziarah kepada makam leluhur saja. Meskipun seseorang harus menempuh perjalanan yang jauh. Namun, Islam jelas tidak mencontohkan hal yang seperti itu. Karena tujuan dari nyekar itu sebenarnya hanyalah untuk mengingat akan kematian. Hal tersebut sebenarnya bisa dilakukan pada kuburan mana saja tanpa harus ke makam leluhur. Jadi, kesimpulannya disini adalah nyekar itu merupakan sebuah tradisi yang tidak pernah dicontohkan ke dalam syariah Islam. Maka dari itulah, nyekar itu tidak harus diikuti. Kalaupun Anda ingin melakukan ziarah kubur, sebaiknya lakukan saja di tempat makam mana saja dan di waktu kapan saja tanpa harus mengkhususkan diri untuk ke makan leluhur Anda, misalnya saja saat akan menjelang di bulan puasa saja. Hal tersebut dilakukan supaya bisa terhindar dari kemungkinan akan terbawanya arus ke dalam tradisi nyekar yang sudah jelas ini bertentangan dengan sebuah nash syariat yang sudah ada. Untuk selebihnya, semuanya ada di tangan Anda.